Ada sebuah ekspektasi yang tidak tertulis ketika kita memasuki usia tiga puluh: kita harus sudah "jadi". Menjadi mapan, menjadi kuat, menjadi tiang yang kokoh, atau setidaknya menjadi apa yang dulu digambarkan oleh lembar piagam dan piala masa sekolah. Namun, di sinilah aku sekarang. Duduk di sebuah sudut yang sepi, menatap tangan yang tidak sekuat ekspektasi orang-orang, dan menyadari bahwa realitas berjalan ke arah yang sepenuhnya berbeda. Dulu, aku mengira hidup adalah garis lurus dari prestasi menuju kesuksesan. Aku lupa bahwa hidup juga melibatkan ruang, fisik, dan materi. Ketika keterbatasan ekonomi mengepung ruang gerak, dan fisikku tidak dirancang untuk menahan beban kasar dunia luar, aku mulai merasa seperti barang pecah belah di tengah badai batu. Aku sering merasa malu. Malu pada masa lalu yang sempat bersinar, dan malu pada standar maskulinitas di sekitarku yang mengukur harga seorang pria dari otot, ketegasan, dan pekerjaan-pekerjaan berat. Dalam narasi dunia, pr...
So, this is my life. I just have this happy personality and a sad soul in one body, it feels weird sometimes.