Dalam keheningan malam, aku sering duduk di tepi jendela, merasakan beban yang tak kasat mata di punggungku. Dulu aku yakin punya sayap. Impian-impian itu begitu jelas — terbang tinggi, melihat dunia dari atas, menyentuh awan yang dulu hanya menjadi latar dalam doa malam. Tapi sayap itu tak pernah bisa dikembangkan. Bukan karena aku tak mau melatihnya, melainkan karena tubuh ini terlalu lemah untuk menahan hembusan angin. Setiap kali mencoba menggerakkannya, dada terasa sesak, tenaga habis sebelum kaki bahkan meninggalkan tanah. Kondisi yang keras, situasi yang tak mendukung, semuanya datang seperti kabut tebal yang menyembunyikan arah terbang. Aku tak marah. Hanya sedih. Sedih yang dalam dan sunyi. Sedih karena punya mimpi, tapi tak punya cukup kekuatan untuk mengejarnya. Setiap hari terasa seperti berjalan di jalan yang menanjak dengan kaki yang gemetar. Mental ini kadang begitu rapuh, seperti kaca yang retak sedikit saja goncangan takut akan membuatnya hancur. Fisik ini pun sering m...
Di hutan yang selalu digambarkan sebagai tempat pohon-pohon berdiri tegak, ada satu pohon yang tumbuh miring. Bukan karena ia ingin berbeda. Bukan karena ia memberontak. Angin hanya selalu datang dari arah yang sama sejak ia masih kecil. Akarnya menyesuaikan. Batangnya menyesuaikan. Daun-daunnya menyesuaikan. Sampai suatu hari, ketika ia sudah cukup tinggi untuk melihat ke sekeliling, ia menyadari bahwa semua pohon lain berdiri lurus. Dan orang-orang yang lewat selalu bilang: pohon yang baik adalah pohon yang tegak. Pohon yang kuat. Pohon yang bisa menahan badai tanpa condong. Pohon yang bisa dijadikan tiang. Pohon miring itu mendengar semuanya. Ia mencoba meluruskan diri. Ia menahan napas. Ia memaksa batangnya ke arah yang “benar”. Tapi setiap kali ia memaksa, ada sesuatu di dalam dirinya yang retak pelan-pelan. Bukan retak yang kasatmata. Lebih seperti retakan di dalam kayu yang hanya bisa didengar kalau kita mendekatkan telinga ke batangnya di malam hari. Maka ia berhenti memaksa. D...