Di hutan yang selalu digambarkan sebagai tempat pohon-pohon berdiri tegak, ada satu pohon yang tumbuh miring.
Bukan karena ia ingin berbeda. Bukan karena ia memberontak. Angin hanya selalu datang dari arah yang sama sejak ia masih kecil. Akarnya menyesuaikan. Batangnya menyesuaikan. Daun-daunnya menyesuaikan. Sampai suatu hari, ketika ia sudah cukup tinggi untuk melihat ke sekeliling, ia menyadari bahwa semua pohon lain berdiri lurus. Dan orang-orang yang lewat selalu bilang: pohon yang baik adalah pohon yang tegak. Pohon yang kuat. Pohon yang bisa menahan badai tanpa condong. Pohon yang bisa dijadikan tiang.
Pohon miring itu mendengar semuanya. Ia mencoba meluruskan diri. Ia menahan napas. Ia memaksa batangnya ke arah yang “benar”. Tapi setiap kali ia memaksa, ada sesuatu di dalam dirinya yang retak pelan-pelan. Bukan retak yang kasatmata. Lebih seperti retakan di dalam kayu yang hanya bisa didengar kalau kita mendekatkan telinga ke batangnya di malam hari.
Maka ia berhenti memaksa.
Dan sejak itu, kesepian datang seperti bayangan yang setia. Tidak ada yang mau duduk di bawahnya. Orang bilang bentuknya aneh. Orang bilang ia tidak cocok menjadi tempat berlindung. Orang bilang pohon seperti itu seharusnya ditebang saja, diganti dengan yang lebih tegak.
Tapi malam tetap datang. Dan di malam yang sunyi, ketika semua orang sudah tidur dan angin berhenti menghakimi, pohon itu berdiri di tempatnya. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang menilai. Hanya ada dirinya, dan langit yang tidak meminta apa-apa.
Di situlah ia belajar sesuatu dengan pelan-pelan: bahwa kesendirian bukanlah hukuman. Kadang ia adalah ruang satu-satunya di mana sebuah pohon akhirnya diizinkan tumbuh ke arah yang memungkinkannya hidup. Bukan ke arah yang diharapkan orang. Bukan ke arah yang dianggap “benar”. Tapi ke arah yang membuatnya tetap bernapas.
Mungkin suatu hari nanti akan ada seseorang yang lewat dan tidak terkejut melihat pohon itu miring. Mungkin seseorang akan duduk di bawahnya tanpa bertanya mengapa batangnya condong. Tapi sampai hari itu datang—jika memang datang—pohon itu sudah tahu: ia tidak harus menunggu orang lain untuk merasa utuh. Ia sudah utuh di kemiringannya sendiri.
Dan bayangan kesepian yang dulu terasa seperti kutukan, perlahan berubah menjadi teman yang diam. Teman yang tidak pernah meminta ia menjadi lurus.
Sumber foto : Moana's World by Pinterest

Komentar
Posting Komentar