Ada satu waktu di masa lalu ketika lembar-lembar diriku ditenun dengan benang-benang terbaik. Orang-orang melihat polanya yang rapi, warnanya yang memikat, lalu meramalkan bahwa kelak aku akan menjadi jubah yang dipamerkan di tempat tertinggi. Aku tumbuh dengan keyakinan itu—bahwa aku berharga, bahwa aku menjanjikan. Namun, dunia luar ternyata bukan sebuah ruang pameran yang hangat. Dunia yang kuhadapi adalah padang terbuka yang berangin kencang, penuh dengan batu-batu tajam dan tuntutan yang kasar. Di sinilah ironi itu dimulai. Di usia yang kini telah menyentuh kepala tiga, aku semakin menyadari bahwa aku adalah selembar sutra yang dilemparkan ke tengah badai, lalu disalahkan karena tidak mampu menahan laju angin. Di sekelilingku, mendung kehidupan menuntut setiap orang untuk menjadi terpal yang tebal atau baja yang kokoh. Mereka adalah definisi "normal" yang disepakati oleh dunia. Sementara aku? Jalinan seratku terlampau lembut. Langkahku meliuk dalam ritme yang berbeda, me...
So, this is my life. I just have this happy personality and a sad soul in one body, it feels weird sometimes.