Perjalanan ini terlalu panjang untuk kaki yang lemah. Aku berjalan pelan, napas tersengal di setiap tanjakan kecil. Dulu ada bayangan cita-cita yang cerah di depan. Kini yang tersisa hanyalah bayanganku sendiri yang mengikuti di belakang — teman setia yang tak pernah bicara.
Kesendirian datang sebagai teman yang paling jujur. Ia tak pernah meninggalkanku, meski aku sering berharap ia pergi. Di saat tubuh ini sakit, pikiran ini gelap, dan mimpi-mimpi itu semakin pudar, hanya kesendirian yang tetap ada. Tak ada tangan yang terulur. Tak ada suara yang menguatkan. Hanya aku, dengan beban yang terlalu berat untuk pundak yang rapuh.

Komentar
Posting Komentar