Aku sering membayangkan diri ini sebagai seekor burung yang memiliki sayap, tapi tak pernah bisa terbang sejauh yang diimpikan. Bukan karena sayapnya patah, melainkan karena tubuh ini terlalu rapuh dan angin terlalu kencang. Yang paling menyedihkan bukan ketidakmampuan terbang itu sendiri, melainkan kesendirian yang menyertainya.
Di langit yang luas ini, aku terbang rendah sendirian. Tak ada kawanan, tak ada suara lain yang memanggil namaku. Setiap kali mencoba mengangkat sayap, hanya ada hembusan angin yang dingin menyapa punggung. Cita-cita dulu begitu indah — terbang bersama orang-orang yang sejalan, berbagi pemandangan awan, saling menguatkan saat badai datang. Tapi kondisi dan ekonomi membawa aku ke jalur yang sepi. Kini aku hanya bisa melihat dari kejauhan, dengan sayap yang lelah dan dada yang sesak.
Kesendirian ini bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan, seperti kabut yang semakin tebal di pagi hari. Aku lemah secara fisik, mudah lelah hanya dengan berjalan beberapa langkah. Mental ini pun sering menyerah, lebih suka diam daripada berteriak meminta teman. Jadi aku tetap di sini, sendirian, memeluk kesedihan yang sunyi. Tak ada yang salah. Hanya saja jalan ini terlalu berat untuk dijalani seorang diri, dengan tubuh yang tak kuat dan hati yang rapuh.
Kadang di malam hari, aku duduk di tepi jendela dan bertanya dalam hati: “Apakah burung sepertiku memang ditakdirkan terbang sendirian?” Kesedihan itu datang dengan lembut, seperti hembusan angin yang tak pernah hangat.

Komentar
Posting Komentar