Hidupku terasa seperti sebuah ruangan besar yang kosong. Dulu aku membayangkan ruangan ini penuh suara tawa, cerita, dan kehangatan. Aku ingin membawa cita-citaku ke sana — membangun sesuatu yang indah meski dengan tangan yang lemah. Tapi perlahan, ruangan itu semakin sepi.
Situasi dan keadaan membuat pintu-pintu tertutup satu per satu. Tubuh ini cepat lelah, pikiran ini mudah gelisah. Akhirnya aku berdiri sendirian di tengah ruangan itu, dengan sayap yang tak pernah terbang tergantung diam di punggung. Tak ada yang datang. Tak ada yang mengetuk. Hanya gema langkahku sendiri yang terdengar pilu.
Kesendirian ini begitu dalam. Bukan sekadar tidak ada orang di sekitar, tapi rasa bahwa bahkan diriku sendiri kadang asing. Aku lemah, dan kelemahan itu membuatku semakin sulit mendekati orang lain. Setiap usaha terasa melelahkan. Jadi aku memilih diam, memeluk kesedihan yang tenang ini. Sedih karena pernah bermimpi dikelilingi banyak orang, tapi kini hanya ditemani bayanganku sendiri di dinding yang dingin.

Komentar
Posting Komentar