Malam ini lagi. Aku duduk di sudut kamar yang gelap, merasakan beban mati di punggungku. Sayap itu masih ada — dulu putih dan penuh harapan. Kini ia terasa berat, lembab, hampir membusuk. Tak pernah terbang. Bahkan tak pernah mengembang sepenuhnya.
Aku pernah bermimpi tinggi. Ingin melintasi langit, melihat dunia dari atas, meninggalkan tanah yang selalu menarikku ke bawah. Cita-cita itu dulu begitu hidup, seperti nyala kecil di dada. Tapi tubuh ini terlalu lemah. Setiap kali mencoba menggerakkan sayap, napas langsung tersengal, tulang terasa retak, dan mental ini langsung runtuh seperti rumah dari pasir. Kondisi yang keras datang seperti malam yang tak pernah pagi, membungkusku secara perlahan, tanpa amarah, namun dengan diam yang kejam.
Dan yang paling menyakitkan adalah kesendirian ini.
Bukan kesendirian yang biasa. Ini kesendirian yang pekat, yang merayap masuk ke tulang. Aku berjalan lambat sendirian di tanah yang kosong. Tak ada satu pun bayangan burung lain di cakrawala. Tak ada suara. Hanya angin dingin yang meniup melalui bulu-bulu sayap yang tak berguna. Kadang aku berhenti di tengah jalan, menggantung lemah, bertanya pada kegelapan: “Mengapa aku diberi sayap jika hanya untuk merasakan betapa sia-sianya?”
Di tanah, kehidupan terus berjalan tanpa aku. Orang-orang punya kawanan mereka. Mereka terbang beriringan, tertawa di awan. Aku hanya melihat dari kejauhan, dengan dada yang kosong. Fisik ini sudah lama menyerah — mudah sakit, cepat lelah, selalu ingin berbaring dan tak bangun lagi. Mental ini lebih parah. Ia seperti lubang hitam yang pelan-pelan menelan setiap sisa cahaya. Semakin aku mencoba mendekati dunia, semakin aku mundur ke dalam kegelapan sendiri.
Kesendirian ini seperti sahabat yang tak pernah pergi. Ia tidur di sebelahku setiap malam. Ia bangun lebih dulu dariku. Ia berbisik pelan saat aku mencoba menulis, bekerja, atau sekedar bernapas:
“Kamu sendirian. Selalu begini. Selamanya.”
Aku tak marah pada siapa pun. Bukan takdir yang salah. Bukan orang lain. Hanya aku yang terlalu rapuh untuk dunia yang keras ini. Sayapku bukan rusak karena hantaman, tapi karena tak pernah cukup kuat untuk mengembang. Impian-impian itu kini seperti mayat kecil yang membusuk di dalam dada — masih terlihat bentuknya, tapi baunya sudah busuk.
Kadang aku membayangkan jika aku punya keberanian untuk memotong sayap itu sendiri. Mungkin rasa sakitnya akan lebih jujur daripada membawa beban mati ini seumur hidup. Tapi bahkan itu pun terasa terlalu berat untuk dilakukan. Jadi aku terus membawa sayap yang tak berguna ini, berjalan tertatih di tanah yang tak pernah rata, ditemani kesendirian yang semakin lama semakin dalam.
Di ujung malam yang panjang ini, hanya ada satu kebenaran yang tersisa:
Aku adalah burung yang tak pernah terbang.
Dan langit tak pernah peduli.
Sumber foto: Pinterest via Aidan Quinn

Komentar
Posting Komentar