Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Sutra yang Diminta Menahan Badai

Ada satu waktu di masa lalu ketika lembar-lembar diriku ditenun dengan benang-benang terbaik. Orang-orang melihat polanya yang rapi, warnanya yang memikat, lalu meramalkan bahwa kelak aku akan menjadi jubah yang dipamerkan di tempat tertinggi. Aku tumbuh dengan keyakinan itu—bahwa aku berharga, bahwa aku menjanjikan. Namun, dunia luar ternyata bukan sebuah ruang pameran yang hangat. Dunia yang kuhadapi adalah padang terbuka yang berangin kencang, penuh dengan batu-batu tajam dan tuntutan yang kasar. Di sinilah ironi itu dimulai. Di usia yang kini telah menyentuh kepala tiga, aku semakin menyadari bahwa aku adalah selembar sutra yang dilemparkan ke tengah badai, lalu disalahkan karena tidak mampu menahan laju angin. Di sekelilingku, mendung kehidupan menuntut setiap orang untuk menjadi terpal yang tebal atau baja yang kokoh. Mereka adalah definisi "normal" yang disepakati oleh dunia. Sementara aku? Jalinan seratku terlampau lembut. Langkahku meliuk dalam ritme yang berbeda, me...

Buku di Rak yang Salah

Aku sering merasa seperti sebuah buku bersampul beludru yang tersesat di rak peralatan bengkel. Di sekelilingku adalah perkakas besi, palu, dan mesin-mesin yang mengandalkan fungsi dan tenaga kasar. Mereka efisien, mereka bertenaga, dan mereka "normal" bagi dunia yang menuntut ketangguhan fisik. Sementara aku? Lembar-lembarku terlalu tipis. Bahasaku terlalu meliuk, penuh dengan kelembutan yang dianggap asing—bahkan keliru—oleh deretan perkakas di sebelahku. Setiap kali aku mencoba mencocokkan diri dengan fungsi mereka, jilidanku justru koyak. Aku gagal menjadi alat pemukul, dan aku dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menjadi "besi" yang mereka harapkan. Masa lalu yang pernah gemilang kini terasa seperti sinopsis di sampul belakang yang menjanjikan terlalu banyak, namun isinya terlanjur berdebu sebelum sempat dibaca. Foto oleh Penulis