Aku sering merasa seperti sebuah buku bersampul beludru yang tersesat di rak peralatan bengkel. Di sekelilingku adalah perkakas besi, palu, dan mesin-mesin yang mengandalkan fungsi dan tenaga kasar. Mereka efisien, mereka bertenaga, dan mereka "normal" bagi dunia yang menuntut ketangguhan fisik.
Sementara aku? Lembar-lembarku terlalu tipis. Bahasaku terlalu meliuk, penuh dengan kelembutan yang dianggap asing—bahkan keliru—oleh deretan perkakas di sebelahku. Setiap kali aku mencoba mencocokkan diri dengan fungsi mereka, jilidanku justru koyak. Aku gagal menjadi alat pemukul, dan aku dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menjadi "besi" yang mereka harapkan.
Masa lalu yang pernah gemilang kini terasa seperti sinopsis di sampul belakang yang menjanjikan terlalu banyak, namun isinya terlanjur berdebu sebelum sempat dibaca.
Foto oleh Penulis

Komentar
Posting Komentar