Namun, dunia luar ternyata bukan sebuah ruang pameran yang hangat. Dunia yang kuhadapi adalah padang terbuka yang berangin kencang, penuh dengan batu-batu tajam dan tuntutan yang kasar.
Di sinilah ironi itu dimulai. Di usia yang kini telah menyentuh kepala tiga, aku semakin menyadari bahwa aku adalah selembar sutra yang dilemparkan ke tengah badai, lalu disalahkan karena tidak mampu menahan laju angin.
Di sekelilingku, mendung kehidupan menuntut setiap orang untuk menjadi terpal yang tebal atau baja yang kokoh. Mereka adalah definisi "normal" yang disepakati oleh dunia.
Sementara aku? Jalinan seratku terlampau lembut. Langkahku meliuk dalam ritme yang berbeda, melahirkan gerak yang dianggap terlalu gemulai untuk sebuah medan perang. Aku tidak memiliki ketahanan fisik untuk ikut menangkis badai, pun pula tidak memiliki modal untuk membangun benteng pelindung dari angin ribut.
Setiap kali aku dipaksa—atau mencoba memaksakan diri—untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besi itu, serat-seratku terkoyak. Aku pulang dengan rasa bersalah yang pekat, menatap cermin dengan rasa malu yang menggigit: Mengapa aku tidak bisa menjadi seperti mereka? Mengapa aku sekecil dan se-tidak becus ini?
Hal paling menyakitkan dari selembar sutra yang robek adalah ingatan bahwa ia pernah menjadi sesuatu yang dikagumi. Keindahan di masa lalu kini terasa seperti hiasan usang yang salah tempat. Ia seperti benang emas yang terjebak pada kain yang lapuk; tidak bisa menyelamatkanku dari dinginnya realitas, justru hanya mempertegas betapa jauhnya aku telah jatuh.
Aku malu pada ekspektasi yang gagal kupenuhi. Aku malu pada sunyi yang kini menjadi teman paling setia di usia tiga puluh ini.
Badai mungkin akan tetap menderu, dan dunia mungkin tidak akan pernah berhenti memuji kekuatan terpal atau baja. Namun, selembar sutra tidak akan pernah berubah menjadi logam, sekeras apa pun ia dihantam.
Mungkin, menerima bahwa diriku adalah sutra—dengan segala rona lembutnya, kerentanannya, dan ketidakmampuannya melawan badai fisik—adalah awal dari sebuah kepasrahan yang jujur. Aku tidak becus menjadi mereka, karena aku memang bukan diciptakan dari tanah yang sama.
Aku masih berada di sudut yang sepi ini, meraba bagian-bagian diriku yang koyak oleh keterbatasan dan penghakiman. Memang tidak ada piala baru yang terpajang, dan tidak ada takdir megah yang terwujud. Namun, bertahan hidup sebagai sutra yang tetap menjaga kelembutannya di tengah dunia yang kasar ini, barangkali, adalah satu-satunya kemenangan sunyi yang kumiliki.
Foto oleh Penulis

Komentar
Posting Komentar