Malam ini lagi. Aku duduk di sudut kamar yang gelap, merasakan beban mati di punggungku. Sayap itu masih ada — dulu putih dan penuh harapan. Kini ia terasa berat, lembab, hampir membusuk. Tak pernah terbang. Bahkan tak pernah mengembang sepenuhnya. Aku pernah bermimpi tinggi. Ingin melintasi langit, melihat dunia dari atas, meninggalkan tanah yang selalu menarikku ke bawah. Cita-cita itu dulu begitu hidup, seperti nyala kecil di dada. Tapi tubuh ini terlalu lemah. Setiap kali mencoba menggerakkan sayap, napas langsung tersengal, tulang terasa retak, dan mental ini langsung runtuh seperti rumah dari pasir. Kondisi yang keras datang seperti malam yang tak pernah pagi, membungkusku secara perlahan, tanpa amarah, namun dengan diam yang kejam. Dan yang paling menyakitkan adalah kesendirian ini. Bukan kesendirian yang biasa. Ini kesendirian yang pekat, yang merayap masuk ke tulang. Aku berjalan lambat sendirian di tanah yang kosong. Tak ada satu pun bayangan burung lain di cakrawala. Tak ada...
So, this is my life. I just have this happy personality and a sad soul in one body, it feels weird sometimes.