Langsung ke konten utama

Jalan yang Terlalu Panjang untuk Kaki yang Lelah


Hidup ini seperti sebuah perjalanan panjang di jalur pegunungan yang tak pernah rata. Dulu aku berjalan dengan semangat, mata masih berbinar melihat puncak yang indah di kejauhan. Cita-cita itu seperti bintang penunjuk arah.

Tapi semakin jauh, semakin berat. Tubuh ini cepat lelah. Napas sering tersengal di tanjakan kecil sekalipun. Pikiran ini kadang berhenti di tengah jalan, duduk diam karena terlalu banyak kabut yang menutupi pandangan. Kondisi menjadi batu yang harus dipikul, situasi menjadi angin yang meniup mundur langkah.

Aku tak menyalahkan gunungnya. Gunung hanya diam, seperti takdir yang tak pernah memilih siapa yang kuat dan siapa yang rapuh. Aku hanya sedih. Sedih karena ingin terus berjalan, tapi setiap langkah terasa seperti memikul seluruh dunia di pundak. Sedih karena punya keinginan besar, tapi kapasitas yang kecil.

Kadang aku berhenti sejenak, duduk di pinggir jalan, memeluk lutut sendiri. Di saat itu, aku berbisik pada diri sendiri: "Kamu sudah berusaha. Meski sayapmu tak pernah terbang, setidaknya kamu pernah bermimpi." Kesedihan itu bukan musuh. Ia teman yang setia menemani di sepanjang jalan yang terlalu berat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

你偷偷

Kamu diam-diam muncul Membuatku sedikit bingung Bercerita tentang arah Arah yang sedikit berbeda dari yang kubayangkan Kamu diam-diam muncul Aku berdiam diri di sudut untuk berpikir Situasi apa ini? Pikiranku kosong Aku tidak bisa berpikir apa-apa ... Sedikit demi sedikit kuungkapkan kepadamu Siapa diriku sebenarnya Cinta memintaku untuk berhenti Bodohnya aku masih tetap tinggal Bagaimana aku harus memulihkan hatimu? Jika kamu tidak pernah terluka Apa yang kulindungi tidak akan pernah berguna Omong kosong apa lagi yang harus kukatakan untuk menutupi semua Akhirnya kukatakan kepadanya bahwa Cinta terdalamku ada padamu Tidak peduli apapun akan kulakukan *** (I love this song so much) Penggalan lyrics from one of my favorite songs.

Kita Bagai Merkurius dan Pluto

Tak ada sedikitpun niat untuk mencari perbedaan, namun perbedaan kita memang sangat jauh.  Tidak hanya seperti langit dan bumi yang meskipun berbeda, tapi tidak begitu jauh karena masih dalam satu planet. Kita bahkan bagai Merkurius dan Pluto. Kau begitu dekat dengan matahari, kau begitu terang, hangat dan selalu mendapat sinarnya. Sementara aku begitu gelap, dingin dan terasing. Aku bahkan sudah tidak dianggap lagi sebagai sebuah planet, karena jarak yang sangat jauh dari Matahari, terasing, terkucil, dan tidak lagi berjalan dalam orbit mengelilingi Matahari. Kau pasti tahu bukan, Merkurius dan Bumi saja kerap saling menyombongkan diri mereka. Merkurius mengatakan bahwa dia adalah planet yang paling terang dan hangat, meski hangat adalah istilah yang ia ciptakan sendiri. Sementara Bumi, tentu saja ia membanggakan kehidupan makhluk yang ada di dalamnya. Dan... Kau lihat sendiri bukan? Merkurius dan Bumi saja yang berjarak cukup dekat karena hanya dibatasi sebuah planet, tidak bis...

Tujuh Tahunku

Setelah bekerja selama 7 tahun pada akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri di Bulan Desember ini. Perjalanan yang cukup panjang dari Oktober 2016 sampai Desember 2023. Pahit manis dan suka duka sudah banyak dilalui selama perjalanan tujuh tahun ini. Apakah merasa menyesal? Tidak, sama sekali tidak. Karena memang sudah lama punya keinginan untuk berhenti. Dari awal mengajukan surat ke personalia juga sudah merasa yakin kalau nantinya tidak akan menyesal. Bahkan beberapa tahun silam ketika masih jadi tim pembina sudah pernah juga terbesit keinginan untuk berhenti. Tapi masih bertahan karena beberapa kondisi.  Surat resign nya sebenarnya pertama kali dibuat secara utuh pada minggu awal bulan September 2023, karena memang pada waktu itu ada kejadian yang sangat "menyentil" sehingga keinginan lama untuk berhenti yang sudah terpendam itu seolah meronta-ronta karena merasa sangat tidak tahan dengan kejadian itu. Tapi entah kenapa masih bisa bertahan karena merasa ini masih haru...

My Kind Of Story

I don't know what's this, some kind of confession? No. Just so people know why I acted this way. So I've been asked a lot about why I never visited the dormitory after graduation. The reason, it was because I don't want to meet with some people if I go there to be honest. I've been through hell in that place, in that damn school, people just don't know how much I suffered mentally. I've been bullied, yeah that sounds cliche, right? Cliche it is, but that was the truth. Maybe not physically because I never got hit, and nobody punched me in the face, or no one kicked my ass, but I always got verbal abuse from those people. Is verbal abuse not the kind of bullies? If it's not, then I don't know what the bullies are. I don't get it why those people are nasty to me, what did I do wrong I don't know that. I mean like when you're nasty and be mean to someone it must be because he makes you uncomfortable, he annoys you, or he disturb you. But...

Hujan

Hanya hujan yang terasa Menyapu bumi yang basah sunyi Lindap oleh air mata duka : sampai kapankah ini akan terus terjadi? Hanya hujan yang terasa dingin, kelam takut Hujan paksa buka lembaran lama Kisah hitam, kelam Benci Hujan,  Jangan tambah kepedihanku!  27 Februari 2011