Hidup ini seperti sebuah perjalanan panjang di jalur pegunungan yang tak pernah rata. Dulu aku berjalan dengan semangat, mata masih berbinar melihat puncak yang indah di kejauhan. Cita-cita itu seperti bintang penunjuk arah.
Tapi semakin jauh, semakin berat. Tubuh ini cepat lelah. Napas sering tersengal di tanjakan kecil sekalipun. Pikiran ini kadang berhenti di tengah jalan, duduk diam karena terlalu banyak kabut yang menutupi pandangan. Kondisi menjadi batu yang harus dipikul, situasi menjadi angin yang meniup mundur langkah.
Aku tak menyalahkan gunungnya. Gunung hanya diam, seperti takdir yang tak pernah memilih siapa yang kuat dan siapa yang rapuh. Aku hanya sedih. Sedih karena ingin terus berjalan, tapi setiap langkah terasa seperti memikul seluruh dunia di pundak. Sedih karena punya keinginan besar, tapi kapasitas yang kecil.
Kadang aku berhenti sejenak, duduk di pinggir jalan, memeluk lutut sendiri. Di saat itu, aku berbisik pada diri sendiri: "Kamu sudah berusaha. Meski sayapmu tak pernah terbang, setidaknya kamu pernah bermimpi." Kesedihan itu bukan musuh. Ia teman yang setia menemani di sepanjang jalan yang terlalu berat ini.

Komentar
Posting Komentar