Dalam keheningan malam, aku sering duduk di tepi jendela, merasakan beban yang tak kasat mata di punggungku. Dulu aku yakin punya sayap. Impian-impian itu begitu jelas — terbang tinggi, melihat dunia dari atas, menyentuh awan yang dulu hanya menjadi latar dalam doa malam.
Tapi sayap itu tak pernah bisa dikembangkan. Bukan karena aku tak mau melatihnya, melainkan karena tubuh ini terlalu lemah untuk menahan hembusan angin. Setiap kali mencoba menggerakkannya, dada terasa sesak, tenaga habis sebelum kaki bahkan meninggalkan tanah. Kondisi yang keras, situasi yang tak mendukung, semuanya datang seperti kabut tebal yang menyembunyikan arah terbang.
Aku tak marah. Hanya sedih. Sedih yang dalam dan sunyi. Sedih karena punya mimpi, tapi tak punya cukup kekuatan untuk mengejarnya. Setiap hari terasa seperti berjalan di jalan yang menanjak dengan kaki yang gemetar. Mental ini kadang begitu rapuh, seperti kaca yang retak sedikit saja goncangan takut akan membuatnya hancur. Fisik ini pun sering menyerah duluan.
Dan di situlah kesedihan itu tinggal — bukan sebagai amarah, tapi sebagai pengingat lembut bahwa aku hanyalah manusia kecil yang sedang membawa beban yang terlalu berat untuk sayap yang tak pernah terlatih.
Sumber foto: Pinterest via Middlton

Komentar
Posting Komentar