Langsung ke konten utama

Sayap yang Diam di Punggung

Dalam keheningan malam, aku sering duduk di tepi jendela, merasakan beban yang tak kasat mata di punggungku. Dulu aku yakin punya sayap. Impian-impian itu begitu jelas — terbang tinggi, melihat dunia dari atas, menyentuh awan yang dulu hanya menjadi latar dalam doa malam.

Tapi sayap itu tak pernah bisa dikembangkan. Bukan karena aku tak mau melatihnya, melainkan karena tubuh ini terlalu lemah untuk menahan hembusan angin. Setiap kali mencoba menggerakkannya, dada terasa sesak, tenaga habis sebelum kaki bahkan meninggalkan tanah. Kondisi yang keras, situasi yang tak mendukung, semuanya datang seperti kabut tebal yang menyembunyikan arah terbang.

Aku tak marah. Hanya sedih. Sedih yang dalam dan sunyi. Sedih karena punya mimpi, tapi tak punya cukup kekuatan untuk mengejarnya. Setiap hari terasa seperti berjalan di jalan yang menanjak dengan kaki yang gemetar. Mental ini kadang begitu rapuh, seperti kaca yang retak sedikit saja goncangan takut akan membuatnya hancur. Fisik ini pun sering menyerah duluan.

Dan di situlah kesedihan itu tinggal — bukan sebagai amarah, tapi sebagai pengingat lembut bahwa aku hanyalah manusia kecil yang sedang membawa beban yang terlalu berat untuk sayap yang tak pernah terlatih.


Sumber foto: Pinterest via Middlton

Komentar

Postingan populer dari blog ini

你偷偷

Kamu diam-diam muncul Membuatku sedikit bingung Bercerita tentang arah Arah yang sedikit berbeda dari yang kubayangkan Kamu diam-diam muncul Aku berdiam diri di sudut untuk berpikir Situasi apa ini? Pikiranku kosong Aku tidak bisa berpikir apa-apa ... Sedikit demi sedikit kuungkapkan kepadamu Siapa diriku sebenarnya Cinta memintaku untuk berhenti Bodohnya aku masih tetap tinggal Bagaimana aku harus memulihkan hatimu? Jika kamu tidak pernah terluka Apa yang kulindungi tidak akan pernah berguna Omong kosong apa lagi yang harus kukatakan untuk menutupi semua Akhirnya kukatakan kepadanya bahwa Cinta terdalamku ada padamu Tidak peduli apapun akan kulakukan *** (I love this song so much) Penggalan lyrics from one of my favorite songs.

Kita Bagai Merkurius dan Pluto

Tak ada sedikitpun niat untuk mencari perbedaan, namun perbedaan kita memang sangat jauh.  Tidak hanya seperti langit dan bumi yang meskipun berbeda, tapi tidak begitu jauh karena masih dalam satu planet. Kita bahkan bagai Merkurius dan Pluto. Kau begitu dekat dengan matahari, kau begitu terang, hangat dan selalu mendapat sinarnya. Sementara aku begitu gelap, dingin dan terasing. Aku bahkan sudah tidak dianggap lagi sebagai sebuah planet, karena jarak yang sangat jauh dari Matahari, terasing, terkucil, dan tidak lagi berjalan dalam orbit mengelilingi Matahari. Kau pasti tahu bukan, Merkurius dan Bumi saja kerap saling menyombongkan diri mereka. Merkurius mengatakan bahwa dia adalah planet yang paling terang dan hangat, meski hangat adalah istilah yang ia ciptakan sendiri. Sementara Bumi, tentu saja ia membanggakan kehidupan makhluk yang ada di dalamnya. Dan... Kau lihat sendiri bukan? Merkurius dan Bumi saja yang berjarak cukup dekat karena hanya dibatasi sebuah planet, tidak bis...

Tujuh Tahunku

Setelah bekerja selama 7 tahun pada akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri di Bulan Desember ini. Perjalanan yang cukup panjang dari Oktober 2016 sampai Desember 2023. Pahit manis dan suka duka sudah banyak dilalui selama perjalanan tujuh tahun ini. Apakah merasa menyesal? Tidak, sama sekali tidak. Karena memang sudah lama punya keinginan untuk berhenti. Dari awal mengajukan surat ke personalia juga sudah merasa yakin kalau nantinya tidak akan menyesal. Bahkan beberapa tahun silam ketika masih jadi tim pembina sudah pernah juga terbesit keinginan untuk berhenti. Tapi masih bertahan karena beberapa kondisi.  Surat resign nya sebenarnya pertama kali dibuat secara utuh pada minggu awal bulan September 2023, karena memang pada waktu itu ada kejadian yang sangat "menyentil" sehingga keinginan lama untuk berhenti yang sudah terpendam itu seolah meronta-ronta karena merasa sangat tidak tahan dengan kejadian itu. Tapi entah kenapa masih bisa bertahan karena merasa ini masih haru...

My Kind Of Story

I don't know what's this, some kind of confession? No. Just so people know why I acted this way. So I've been asked a lot about why I never visited the dormitory after graduation. The reason, it was because I don't want to meet with some people if I go there to be honest. I've been through hell in that place, in that damn school, people just don't know how much I suffered mentally. I've been bullied, yeah that sounds cliche, right? Cliche it is, but that was the truth. Maybe not physically because I never got hit, and nobody punched me in the face, or no one kicked my ass, but I always got verbal abuse from those people. Is verbal abuse not the kind of bullies? If it's not, then I don't know what the bullies are. I don't get it why those people are nasty to me, what did I do wrong I don't know that. I mean like when you're nasty and be mean to someone it must be because he makes you uncomfortable, he annoys you, or he disturb you. But...

Hujan

Hanya hujan yang terasa Menyapu bumi yang basah sunyi Lindap oleh air mata duka : sampai kapankah ini akan terus terjadi? Hanya hujan yang terasa dingin, kelam takut Hujan paksa buka lembaran lama Kisah hitam, kelam Benci Hujan,  Jangan tambah kepedihanku!  27 Februari 2011