Namun, di sinilah aku sekarang. Duduk di sebuah sudut yang sepi, menatap tangan yang tidak sekuat ekspektasi orang-orang, dan menyadari bahwa realitas berjalan ke arah yang sepenuhnya berbeda.
Dulu, aku mengira hidup adalah garis lurus dari prestasi menuju kesuksesan. Aku lupa bahwa hidup juga melibatkan ruang, fisik, dan materi. Ketika keterbatasan ekonomi mengepung ruang gerak, dan fisikku tidak dirancang untuk menahan beban kasar dunia luar, aku mulai merasa seperti barang pecah belah di tengah badai batu.
Aku sering merasa malu. Malu pada masa lalu yang sempat bersinar, dan malu pada standar maskulinitas di sekitarku yang mengukur harga seorang pria dari otot, ketegasan, dan pekerjaan-pekerjaan berat.
Dalam narasi dunia, pria yang "lembut" atau tidak memenuhi cetakan "normal" sering kali dianggap tidak becus. Aku sempat mempercayai stigma itu. Aku merasa seperti sebuah kesalahan cetak. Riwayat sekolahku yang penuh prestasi kini terasa seperti ejekan masa lalu—sebuah pengingat tentang potensi yang layu sebelum berkembang.
Namun, apakah dengan menjadi "berbeda" lantas berarti kita tidak berharga?
Jika bumi ini hanya diisi oleh batu hitam yang keras, maka dunia akan kehilangan warnanya. Mungkin, aku tidak diciptakan untuk menjadi pilar beton yang menahan beban semen. Mungkin, jalanku adalah menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang membutuhkan kelembutan, dan cara pandang yang berbeda.
Aku sedang belajar untuk tidak lagi meminta maaf pada dunia karena terlahir dengan fisik dan jiwa yang seperti ini. Gagal memenuhi cita-cita masa lalu memang menyakitkan, tetapi bertahan hidup hingga hari ini dengan segala keterbatasan adalah sebuah prestasi baru yang belum sempat tertulis di piagam mana pun.
Sumber foto : Pinterest via dise2zf5v

Komentar
Posting Komentar