Aku bukan barang yang cacat dari pabrik.
Kadang aku membayangkan Sang Pencipta menggoreskan kuas-Nya dengan senyuman kecil saat membentukku. Mungkin Dia berbisik, “Kali ini warnanya agak berbeda.” Namun dunia di bawah sana tidak menyukai warna yang tak biasa. Mereka lebih suka segalanya seragam.
Aku adalah laki-laki. Aku memiliki keinginan untuk berdiri teguh. Namun di dalam sana ada kelembutan yang tak pernah bisa kuhapus sepenuhnya. Ada melodi yang selalu bergetar pada nada yang berbeda dari kebanyakan orang. Aku pernah berusaha memotong nada itu, mengubah iramanya, bahkan memaksanya mengikuti lagu yang dinyanyikan orang banyak.
Seperti potongan puzzle yang indah, tapi selalu dipaksa masuk ke gambar yang bukan miliknya. Setiap kali dipukul agar pas, ada bagian yang retak. Semakin aku memaksa, semakin aku kehilangan keindahan asliku.
Hingga akhirnya aku mengerti:
Aku bukan puzzle yang salah. Aku hanya dimaksudkan untuk gambar yang lain.
Di kanvas yang berbeda, potonganku ini akan pas dengan sempurna. Di cerita yang lain, kelembutanku bukanlah kekurangan, melainkan bagian dari keutuhan.
Sekarang aku sedang belajar berdiri sebagai diriku sendiri — bukan sebagai tiruan dari bayangan orang lain. Masih ada hari-hari ketika aku ingin kembali bersembunyi. Tapi ada juga hari-hari ketika aku bisa memandang bayanganku dan berkata pelan:
“Kamu tidak rusak. Kamu hanya... berbeda. Dan berbeda itu, pada akhirnya, adalah salah satu cara Tuhan melukis dunia.”
Sumber foto: Pinterest via Sahroni

Komentar
Posting Komentar